Prakata Berbeda dari cerita-cerita Murakami lainnya, cerpen ini nggak mengambil latar di Jepang, tetapi di Praha saat Perang Dunia II. Ketika suatu makhluk bermetamorfosis menjadi seorang manusia dengan nama Gregor Samsa — alusi dari kisah The Metamorphosis-nya Franz Kafka, The Metamorphosis-nya Franz Kafka,
JanganBilang Lo Jatuh Cinta? Cerpen Karangan: Lee Ghin Fhae Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Persahabatan. Lolos moderasi pada: 4 February 2017 "pokoknya lo harus jadi cewek gue. Gue gak bakal tahan dengan semua cewek-cewek yang ngeganggu gue selama di sekolah nanti. Kau lo jadi cewek gue apapun mau lo bakal gue turutin deh, janji."
SALAHJATUH CINTA(Rangkaian Cerpen Menuju OPQ)Introper, suka ngelucu, sensitif,ngeblass. Hmm Handsome, manis senyumnya melebihi gula kali ya. Setia
Cerpen Orang Gila di Tempat Kos! Jatuh Cinta dengan Pekerjaan; Sudah Terlanjur Jatuh Cinta; Segenap hidup akan aku dedikasikan hanya untukmu sayangku, hingga kelak aku dan kamu sama-sama menua, dan akhirnya musnah setelah tutup usia. Percayalah, akan aku rawat kamu dengan segenap kemampuanku, memanjakanmu adalah hal yang paling
Berikutini cerpen cinta romantis terbaru dengan judul "Rain". Cerpen ini merupakan karya Dian S. Cerpen Romantis - Rain (Part 1) Bianca berdiri di balkon kamarnya. Pandangannya menatap lurus ke depan. Hujan yang begitu deras kini menyita perhatiannya. Dia menatap rintik-rintik air yang turun dengan sendu.
AkuJatuh Cinta Sama Janda Muda. seorang janda muda yang bekerja di sebuah toko handphone. Aku mengenalnya beberapa bulan yang lalu, bukan tidak sengaja. Cerpen Metropolis posted a video to playlist Cerpen Metropolis Cerita Pendek Romantis Cinta. December 28, 2020 ·
oU43r. Cerpen Karangan Octa RinaKategori Cerpen Cinta, Cerpen Perpisahan, Cerpen Sedih Lolos moderasi pada 12 September 2013 Ia melihat senja dengan tatapan kosong, gadis itu seakan berbicara pada senja, ia berada di ambang kesedihan yang amat dalam, kesedihannya terpancar jelas dari raut mukanya. Hatinya seakan berkomunikasi pada senja, tatapan matanya seakan meminta harapan. Dan setiap senja itu berakhir ia menangis, menangis sampai ia benar-benar tak bisa melanjutkan tangisnya. Aku hanya memandang gadis itu dari kejauhan, sudah tiga hari aku mengamatinya, ia selalu berada di tempat ini saat senja tiba. Aku ingin sekali menghampiri gadis itu, tapi aku selalu ragu, aku tak ingin mengusik kesendiriannya. Apa ia butuh teman? Apa ia butuh seseorang untuk menghiburnya? Aku masih terus bertanya-tanya, mengapa aku begitu tertarik pada gadis itu? Aku kan tidak mengenalnya, bahkan namanya saja aku tidak tahu. Hatiku terus menuntutku untuk menemuinya. Dan aku mencoba memberanikan diri sekarang. “hay” kataku menyapanya. Ia terlihat terkejut dan mencoba menghapus airmatanya. “ada apa?” ia menjawab. “bolehkah aku duduk disini?” aku bertanya dengan gugup. “ya tentu!” Gadis itu terdiam. “apa yang kau lakukan disini? Mengamati senja sampai senja itu berakhir?” aku kembali bertanya. Tapi, mengapa ia menatapku dengan tatapan marah, ia berdiri dan pergi. “hey mengapa kau pergi? Nona?” aku berteriak memanggilnya, tapi ia mengabaikannya, aku melihat gadis itu berlari, berlari sambil menangis. oh astaga apa yang kuperbuat? Apa aku menyakitinya dengan ucapanku tadi? Harusnya kan aku menghiburnya, bukan malah membuatnya menangis, ah bodohnya diriku. Keesok harinya aku kembali melihatnya disini saat senja tiba, tanpa ragu aku mendekatinya “hey, maaf ya untuk perkataan ku kemarin” kataku berterus terang dan ia menatapku. “ya, tidak masalah..” “mengapa kemarin kau berlari dan menangis? apa perkataanku menyakitimu?” ia terdiam. “maaf, aku banyak bertanya.” Aku tersenyum lalu bangkit dari duduk ku. “kenapa kamu ingin tahu?” katanya menatapku. “aku hanya heran mengapa kau selalu menangis ketika senja berakhir?” “duduk lah jika kau ingin tau.” Katanya tersenyum. “ok aku duduk, lalu mengapa kau bersedih? Apa senja menyakitimu?” aku sedikit tertawa.. ia menatap ku lagi. “senja tidak membuatku bersedih, senja adalah sahabatku.” Ia menjawab dengan tenang. “sahabat? Bagaimana caranya kau berkomunikasi dengannya?” kataku penasaran. “jika kau mengerti senja, ia akan memberitahumu bagaimana caranya.” Ia bangkit lalu pergi sambil tersenyum padaku.. “hey tunggu, siapa namamu?” aku setengah berteriak, lalu ia menoleh dan berkata “rinjani”. Rinjani? Nama yang indah. Tapi apa mungkin aku bisa berkomunikasi dengan senja? Gumamku dalam hati. Hari ini hujan turun, entah mengapa sore ini langit menangis setelah seharian ia marah dan membiarkan matahari memanggang kulit manusia yang beraktivitas dibawahnya. Selintas pikiranku menuju pada rinjani apakah ia berada di tempat kemarin? Tapi mustahil senja akan terlihat, awan mendung pasti akan menutupinya, tapi aku penasaran. “lebih baik aku kesana.” Gumamku. Setelah berada disana aku tak melihat sosok rinjani, hujan pasti telah membuatnya tak ingin berkunjung, kekecewaan menghampiri diriku. Aku duduk tertunduk di kursi ini sendirian dalam rintik hujan yang berusaha membasahi seluruh tubuhku. “hey” seseorang memanggilku, aku menoleh dan melihat sosok seorang gadis dengan payung yang tak asing bagiku. “rinjani?” aku tersenyum bahagia. “sedang apa kau disini? Berharap pelangi muncul setelah hujan reda?” ia tertawa kecil. “tidak, aku mengharapkan kehadiranmu.” Aku tersenyum. “aku sudah disini, lalu kau mau apa?” tanyanya dengan nada bercanda. “hmmm, mengajakmu melihat pelangi, walau hujan tak berhenti sampai malam hari. Bagaimana?” aku tertawa. “aku lebih ingin melihat senja ketimbang melihat pelangi” ia terdiam. “senja telah tiba, dia melihat kita tapi kita tidak melihatnya, jangan bersedih rinjani” aku tersenyum dan ia tertawa “ya aku tahu, siapa namamu?” Ia menatapku. “aku rama, salam kenal.” Aku menjulurkan tanganku. Hari begitu cepat berganti, tak terasa kini aku dan rinjani semakin akrab, kami dipertemukan oleh senja, dan aku merasa senja ingin aku selalu bersama rinjani dan ia ingin aku menghapus semua kesedihan yang rinjani simpan. Terlalu banyak luka, terlalu banyak kesedihan yang rinjani rasakan. Rinjani bercerita banyak tentang hidupnya, dan aku menangis ketika ia menceritakannya semua itu, ia hidup sendiri, orangtuanya telah meninggal 5 tahun yang lalu, ia kesepian, dan ia berusaha tetap merasa bahagia walau orang-orang disekelilingnya menghancurkan hidupnya. Betapa malangnya hidup gadis ini. Satu-persatu orang yang ia sayang melukai hatinya, mulai dari sahabat, teman bahkan kekasihnya terdahulu. Aku kagum padanya, ia masih bisa bertahan saat semua orang yang ia sayang menyakitinya, ia tabah walau orang lain berusaha menghalanginya menggapai kebahagiaan. Rinjani itu wanita istimewa, banyak hal yang ku kagumi dalam dirinya, ia kuat, tabah, dan sederhana. Dan aku bertekad untuk membuatnya bahagia selama tuhan masih memberiku nyawa untuk hidup. Sore ini aku pergi ketempat biasa aku bertemu rinjani, dan aku melihat rinjani sedang bernyanyi dengan gitarnya. Aku menghampirinya.. “When you love someone just be brave to say That you want him to be with you When you hold your love don’t ever let it go Or you will lose your chance To make your dreams come true..” “suara yang indah.” Aku tersenyum. Ia berhenti memainkan gitarnya dan ia tersipu malu. “kau selalu datang tiba-tiba, seperti angin.” Ia memandangku. “mengapa berhenti? Suaramu indah, ayo teruskan!” “tidak, tidak suaraku buruk.” Ia tersenyum. “kau selalu merendah, aku kan memujimu, bukan merendahkan suaramu.” Aku tertawa. “aku tak ingin jika awalnya kau memuji, dan pada akhirnya kau malah merendahkanku.” Ia tersenyum. “ayolah, aku tak seburuk itu, lihat senja, ia masih menginginkan kau bernyanyi.” “senja atau kamu yang menginginkan aku bernyanyi? Haha alasanmu saja.” Aku tersenyum kecil dan bernyanyi. “I used to hide and watch you from a distance and i knew you realized i was looking for a time to get closer at least to say… hello” “ayo teruskan, aku yang memetik gitar, kau yang bernyanyi, jangan sungkan anggap saja aku patung yang memainkan gitarmu.” Aku tersenyum. “mana ada patung yang secerewet kamu.” Ia tertawa.. — “Rinjani..” panggilku padanya, rinjani menoleh dan tersenyum.. “ini masih pukul 3 sore dan matahari masih membakar tubuh-tubuh manusia di bawahnya, sedang apa kau disini? Menunggu senja tiba?” aku tersenyum tapi ia tak menjawab. “ada apa rinjani? Kau beda sekali hari ini.” Aku terdiam, ada sesuatu yang berbeda pada rinjani, ia terlihat pucat tak secerah kemarin, apa ia sakit? “rinjani, kamu kenapa? Kamu sakit?” aku masih bertanya-tanya. “tidak, aku baik-baik saja rama. Jangan khawatir.” Ia tersenyum.. “oh syukur lah kalau begitu, apa yang kau lakukan disini? Matahari masih terasa panas jam segini” ia menoleh dan tersenyum “aku ingin menunggu senja dan melihatnya berakhir, mungkin ini adalah terakhir kalinya aku kesini, hehe..” ia tertawa.. “kamu ini, jangan bercanda, tetaplah berkunjung ke tempat ini, apa jadinya tempat ini tanpamu, tegakah kau melihatku kesepian.” Aku menatapnya. “jangan pernah merasa sendirian ram, ada senja yang akan selalu mengerti dirimu..” ia tersenyum.. aku terdiam. “rinjani, jangan pergi. Aku mohon.” Aku menggenggam tangannya. “ayolah, jangan murung. Aku hanya bercanda rama..” ia tersenyum “rinjani, jangan pernah katakan kau akan pergi, jangan pernah. Aku tak akan pernah sanggup mendengar kata-kata itu.” Aku memohon. “umur siapa yang tahu.” Katanya sambil tertawa.. “kita akan mati berdua disini saat kita sudah menjadi kakek dan nenek nanti.” Aku tersenyum dan ia menoleh. “seberapa besar sih arti hidupku untuk mu ram?” — Rinjani menghilang, sudah seminggu ia tak ke tempat ini, aku sudah mencoba menghubunginya tapi tak ada jawaban. Apa yang terjadi? Kemana rinjani? bagaimana kalau ia tak akan kembali? aku takut sesuatu yang buruk terjadi padanya. Ya tuhan.. apa yang terjadi? Duduk sendirian memandang senja tanpa bersama rinjani itu rasanya berbeda. Hanya ada kesunyian tanpa canda tawa. Semuanya hilang mengikuti kepergian rinjani, bahkan senja tak menyapaku lagi, ia begitu cepat menghilang tak seperti hari-hari kemarin saat rinjani masih disini. Apa yang harus ku lakukan? Mana mungkin aku hanya diam. senja kau kan bersahabat dengan rinjani. Bisakah kau memberiku petunjuk? Aku benar-benar kehilangan arah sekarang… Aku mencoba mendatangi kost-an yang ditinggalin rinjani, tapi ia tak ada disana, apa ia telah pindah? Kalau benar, mengapa? Saat aku termenung di depan pintu kost-an rinjani seseorang menghampiriku.. “hey nak sedang apa kau disini?” tanyanya. “saya mencari rinjani bu.” “rinjani? Ia…” ibu itu menghentikan kalimatnya. “rinjani kenapa bu?” ibu itu terdiam. “tolong jawab bu, rinjani itu penting untuk saya..” “nak! Jangan bersedih.. rinjani telah tiada..” ibu itu termenung. “apa? Tidak.. tidak mungkin. Jangan memberiku cerita bohong bu, tidak mungkin. Ia pindah kan? Ia sudah tidak tinggal disini?” “nak tenanglah, rinjani telah meninggal 3 hari yang lalu.” Aku terdiam tak menyangka. “apa penyebabnya? Tanyaku. “sakit, kanker otak. Ia telah mengidap penyakit itu selama 2 tahun. Dokter telah memvonis kematiannya 1 tahun yang lalu, tapi ia mampu bertahan selama ini dengan semua beban yang menimpanya, ia anak yang kuat nak, biarkan ia tenang disana tanpa ada beban yang harus ia pikul lagi..” ibu itu tersenyum.. “tapi bu, rinjani itu penting buat hidup saya.” Aku menangis.. “sudah nak, siapa namamu?” “rama bu..” “rama, hhmm, rinjani menitipkan ini padamu.” Ibu itu memberikan ku sepucuk surat. “surat? Untukku?” aku terdiam.. “iya surat untukmu dari rinjani, ibu tinggal kamu sendirian ya?” ibu itu tersenyum lalu pergi. Aku terdiam dan mulai membaca isi suratnya. “Dear Rama… I wanted a perfect ending. Now i’ve learned the hard way, that some poems don’t rhyme, and some stories don’t have a clear beginning, middle, and end. Life is about not knowing, having to change, taking the moment, and make the best of it, without knowing what’s going to next happen Goodbyes are not forever, goodbyes are not the end. They simply mean i’ll miss you. Until we meet again. Promise me, you’ll never forget me, because if i thought you would i’d never leave. Don’t cry because it’s over. Smile because it happened. Good bye rama, and please open your eyes, life is so long. I don’t really gone. I’m still here. In your heart. Love Rinjani Aku meneteskan air mata.. Rinjani apa jadinya mengamati senja tanpa dirimu. Ini seakan-akan kembali ke beberapa bulan yang lalu sebelum aku mengenalmu, aku akan merindukan sosok istimewamu, sosok wanita tegar, kuat, dan ceria. Aku tahu mungkin sekarang kau telah bahagia, telah benar-benar bahagia tanpa beban yang harus kau pikul lagi. Perkenalan denganmu mungkin akan tetap jadi memori indah dalam hidupku, selamat jalan rinjani, terimakasih atas pelajaran berharga yang kau berikan padaku. – TAMAT – Cerpen Karangan Octa Rina Blog Cerpen Senja Dan Pertemuan Singkat merupakan cerita pendek karangan Octa Rina, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya. "Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!" Share ke Facebook Twitter WhatsApp " Baca Juga Cerpen Lainnya! " Malam dan Siang Menyatu Oleh Bagus Pribadi Malam dan siang. Dua hal yang menurut sebagian orang tak mungkin dapat bertemu. Tapi nyatanya aku hidup di antara keduannya dalam waktu bersamaan. Tidak percaya? Atau penasaran? Berarti kamu Salam Rindu Untuk Papa Oleh Ria Ratoe Oedjoe Hari itu merupakan hari pengumuman kelulusan bagi anak-anak kelas 3 SMP. Hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh setiap anak. Begitu pula denganku. Aku tidak sabar menunggu detik-detik pengumuman itu. Hatiku Mahkota Cinta Oleh Miftahul Anam Mobilku berjalan membelah gelapnya malam, jikapun bulan dan bintang keluar, pasti akan kembali membetulkan selimutnya dan berbaring di peraduannya, hujan lebat disertai angin kencang, akan membentuk dingin yang bisa Catatan Harian Si Angsa Hitam Oleh ALis W Makassar, Senin, 2015. Pagi menyapa wajah mengantukku yang nongol di jendela. Matahari belum sepenuhnya terbit, ternyata masih pukul 08;30. “What?!! Gua kuliahnya jam 08;15. Tapi, mataharinya kok belum nampak. Tentang Hujan dan Matahari Oleh Nurrinisha Wahyudi Saya pasti menunggu dia. Saya pasti bertahan untuk dia. Saya pasti tetap di sini karena dia. Dan, pasti segalanya tentang dia. Mungkin dia menunggu saya. Mungkin dia bertahan untuk “Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?” "Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan loh, bagaimana dengan kamu?"
Cerpen Karangan Nindi HwangKategori Cerpen Cinta Sedih Lolos moderasi pada 25 December 2014 Namaku Edwin seorang mahasiswa semester 7 berumur 20 tahun jurusan manajemen perkantoran di salah satu universitas ternama di kota ini. Aku masih tinggal satu atap dengan keluargaku. Aku akui aku memang salah satu anak dengan prestasi membanggakan di kampus, walaupun aku sebenarnya merasa sedikit risih dengan lontaran-lontaran pujian dari teman-temanku. Banyak yang bilang diriku ini sempurna, dengan mata onyx yang khas dan wajah oriental kulit putih serta perawakan yang tinggi besar, tak heran jika banyak gadis yang mencoba mengalihkan perhatianku. Aku hanya menganggap mereka biasa saja, aku tak terlalu menghiraukan mereka. Namun beberapa hari ini aku memperhatikan tetanggaku yang baru pindahan. Jelasnya ada seorang gadis yang selalu duduk di teras rumah atau duduk di ayunan di depan rumahnya ketika senja tiba. Aku merasa terpikat saat pertama kali aku berkenalan dengannya. Yang pertama kuperhatikan adalah matanya. Tak ada mata seindah matanya sebelumnya. Walaupun dia terkesan pendiam namun aku tau, dia pasti punya sisi lain tersendiri. Raina namanya. Indah bukan? Hmm aku tau aku tertarik padanya. Ada sisi dari dirinya yang berbeda. Hari ini akan kuputuskan pergi ke rumahnya untuk menjalin silaturahmi, atau bisa dibilang ini modus sebuah pendekatan hihiihi. Aku tau itu lucu tapi aku juga tidak tau apa yang sebenarnya terjadi pada diriku sendiri. Aku mengetuk pintu berharap seseorang membukakannya untukku. Benar saja, Bude Ari membukakan pintu, aku berbincang-bincang dengannya seolah aku ingin menjadi tetangga paling baik untuknya. Dan tak lama kemudian Raina datang dengan setelan baju putih. Aku suka selera fashionnya, dia terlihat glamour dan imut sekaligus. Wajah lembutnya seakan menyapu semua fikiranku. Aku menyukainya Tuhan, sungguh aku menyukainya. Dia mencoba duduk di sebelah Bude Ari masih dengan wajah datarnya. Bude Ari mencoba bertanya maksudku untuk datang kesini. Tentu saja aku gelagapan dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh beliau. Seperti maling yang tak ingin ketahuan, aku menjelaskan pada Bude Ari bahwa aku hanya ingin menjalin silaturahmi seperti tujuanku sebelumnya. Raina sangat pendiam, namun di tengah-tengah pembicaraan dia mengulas senyum-senyum kecilnya yang membuat hatiku terasa sedikit sesak olehnya. “Raina masih kuliah?” Tanyaku membuka pembicaraan dengannya. Tapi tidak ada respons darinya, dia hanya diam. Aku tau, aku tidak boleh terlalu memaksanya dulu. Bude Ari akhirnya yang menengahi. Aku memberi coklat buatanku pada Bude Ari. Entah dari mana aku tau, tapi Raina sepertinya suka dengan coklat. Sejak hari pertama aku pergi ke rumah Raina aku menjadikan hal tersebut menjadi sebuah kebiasaan. Awalnya Raina masih tertutup denganku walau mengatakan sepatah katapun. Tapi kini dia mulai mau berbicara denganku walaupun hanya sedikit dan dengan terbata-bata. Aku tau aku tidak boleh terlalu agresif dengan Raina atau aku akan kehilangannya. Setiap senja tiba dan aku sudah pulang kuliah, kusempatkan untuk menemani Raina duduk di ayunan depan rumahnya. Ada sesuatu dari dirinya yang aku ketahui tapi aku tidak tau apa itu. Walau kami hanya berbicara sedikit, bukan sedikit lagi, tapi sangat jarang lebih jarang dari sedikit, tapi aku selalu sabar dengannya. Aku tau dia akan berubah nanti. Kadang dia tidak menganggapku ada, dia hanya sibuk dengan tanaman di depan rumahnya. Ayah dan Ibuku tau hal itu, tapi mereka hanya diam saja. Aku juga tak pernah mengatakan hal apapun soal perasaanku dan soal Raina. Belum sekalipun aku seberat ini dan setegar ini pada seorang gadis. Aku tak tau mengapa, tapi dalam diriku ada suatu alasan yang tak kumengerti dan tak bisa kujelaskan. “Bunga mawarnya bagus ya?” Kataku membuka sedikit pembicaraan Lagi-lagi Raina menyunggingkan senyumannya yang kadang-kadang terkesan datar. “Iya, bunga mawar memang indah” Katanya menjawab Terkadang hatiku terasa pilu dengan semua ini. Namun, aku tau aku tidak boleh salah bertindak atau akan fatal. Sabarkan aku Tuhan. Hari ini aku menerima pesan dari Om ku yang ada di Surabaya, dia berkata jika disana ada proyek dan aku diajak olehnya. Ini sebuah kesempatan besar, gumamku dalam hati. Namun di lain tempat ada sesuatu yang berbisik jika aku tidak mau kehilangan satu hari pun bersama Raina. Aku sangat bingung mana yang harus aku lakukan dan mana yang tidak harus aku lakukan semua ini sangat bertentangan. Aku sangat bingung, di sisi lain aku ingin masa depanku yang cerah dan di sisi satunya aku tidak ingin kehilangan Raina. Kuputuskan untuk berbicara dengan Raina hari ini. Kebetulan dia sedang membaca novel seperti biasanya di ayunan depan rumahnya dengan segelas teh rosella hangat yang biasa dia buat sendiri. Lagi-lagi aku sempat terpesona melihatnya. “Raina sendirian?” Aku memulai pembicaraan Dia membalas dengan senyum datarnya lagi “Aku hanya ingin bicara, selama empat bulan kedepan aku akan pergi ke Surabaya untuk suatu proyek” Kataku sambil memperhatikannya Dia menengok ke arahku, seperti tidak percaya atau menatapku seperti mencari sebuah kebohongan aku tidak dapat menjelaskannya secara rinci tatapannya. Dia memang gadis yang sangat misterius. Namun sedikitnya aku bisa melihat raut kecewa di wajahnya. Sesaat kemudian dia kembali menekuni bukunya dan sedikit mengangguk. “Itu bagus” Katanya singkat, namun jelas bisa menjelaskan nada kecewa di dalamnya. “Ini hanya sebentar, aku akan berangkat empat hari lagi dan aku akan pulang empat bulan mendatang” Kataku Cukup lama aku me nemaninya duduk disini, tanpa kusadari hari pun sudah gelap kira-kira pukul 8 aku pulang. Kulihat Raina ketiduran di ayunan. Kutatap lekat wajah sempurna itu dengan teliti. Kuringkukan tubuh kecil Raina ke dalam pelukanku, kumaksutkan untuk menjaga tubuhnya dengan kehangatan. Kuberanikan diri untuk memeluknya karena aku yakin Raina sudah tidur dengan lelap. Kurasa ini sudah malam. Aku menggendongnya, bermaksud untuk mengantarkan ke kamarnya. “Bude Ari, Raina ketiduran boleh aku antar dia ke kamar?” aku meminta ijin. “Tidak usah repot-rept dek Edwin, Raina suka tidur di kasur dengan TV kamu antar dia kesana saja, di lantai dua” Kata Bude Ari Oke, aku mengantarnya ke lantai dua. Aku menaruh tubuh kecil Raina dia atas kasur. Lagi-lagi aku terpesona akannya. Aku mencium keningnya dan membenahi selimutnya dan aku turun dari lantai dua kemudian berpamitan dengan Bude Ari untuk pulang dan berterimakasih. Aku akan berangkat ke Surabaya lusa dan orangtuaku sangat mendukungku. Setelah kejadian hari itu, aku tidak pernah lagi melihat Raina duduk di ayunan depan rumah. Kecewa sebenarnya, aku tanya pada Bude Ari kata beliau Raina sedang berkonsentrasi menulis novel di kamarnya dan tidak ingin diganggu. Oke aku hargai itu. Tapi ini adalah hari terakhir aku disini dan siang ini aku akan berangkat ke Surabaya. Namun sampai berangkat pun aku tidak menemuinya walau untuk melihat senyum indahnya sekilas saja. Baiklah Tuhan aku akan kembali kesini dengan kesuksesan untuk melamar Raina. Aku yakin itu. 4 Bulan kemudian… Hari ini aku pulang dari Surabaya, proyekku dan Omku sukses besar. Selama di Surabya sedetik pun pikiranku tak pernah lepas akan Raina. Aku semakin mencintainya. Saat seperti ini aku baru merasa bahwa aku memang sangat mencintainya. Setelah pulang dan membersihkan diri di rumah aku langsung pergi ke rumah Raina. “Ibu aku pergi ke rumah Bude Ari dulu ya” Kataku langsung berjalan dengan sedikit berlari ke rumah Raina dengan membawa sejuta harapan serta sebuah cicin berlian yang sempat kubeli untuk menyatakan cinta padanya. Dan ibuku hanya diam saja. “Bude Ari Raina dimana?” Kataku dengan Hening yang kudapat. Kucoba untuk bertanya lagi. “Bude Ari tolong jawab aku dimana Raina?” yang kudapatkan bukanlah sebuah jawaban, namun air mata dari Bude Ari. Kuedarkan pandanganku ke seluruh sudut ruangan rumah Bude Ari. Dan aku temukan dengan jelas sebuah foto yang aku tau pasti itu adalah foto Raina. Tapi tunggu dulu, kenapa di foto itu ada rangkaian bunga? Apa yang terjadi? Sekali lagi aku mencoba bertanya pada Bude Ari “Bude Ari tolong sekali lagi jawab aku, kemana Raina Bude??” Aku sedikit menggoyangkan tubuh Bude Ari. “Maafkan Bude nak Edwin, Raina sudah pergi, dia sudah kembali pada yang Maha Kuasa” JEDERRRRR Bak petir yang menyambar bumi, hatiku runtuh satu persatu dari tempatnya. Keyakinanku hancur seperti piring yang dipecahkan. Dan aku tak bisa memahami ini. Aku meruntuki semua kesalahkanku atas apa yang terjadi. Aku tertunduk meratapi semua ini, aku tak tau harus berbuat apa. Aku arghhhh, aku marah pada semuanya. Aku menagis di antara kepedihan ini. Aku tak percaya Raina sudah tiada, aku tak percaya. Oh Tuhan kenapa saat aku mulai jatuh cinta kau malah menghancurkan semuanya? Kenapa? Beberapa saat setelah semua nyawaku mulai terkumpul lagi, Bude Ari menjelaskan semuanya padaku. Kenapa semuanya terjadi. Mulai dari kulkas, aku diajaknya menuju kulkas. Dibukanya pintu kulkas itu, dan betapa terkejutkanya aku, kulkas itu penuh dengan tumpukan kotak coklat yang sangat aku kenali. Semua itu adalah coklat pemberianku. Aku tak percaya Raina menyimpannya dengan rapih disini. “Raina suka dengan coklat nak, tapi dia tak pernah sedikitpun memakan bahkan menyentuhanya sekalipun. Dia tak ingin coklat buatanmu yang berharga ini hilang dia makan begitu saja” Kata Bude Ari menjelaskan. Setelah itu Bude Ari mengajakku ke kamar Raina. Dan sungguh aku sangat terkejut demi apapun. Sungguh jelas di kamar itu terpasang berbagai foto-foto dengan 2 orang yang berbalut seragam SMA. Aku sangat mengenali wajah itu, itu Raina. Tunggu dulu, siapa laki-laki disana? Kenapa mirip sekali denganku? Tuhan apa arti semua ini? Tiba-tiba kepalaku pening dan sakit. “Kau tidak apa-apa kan nak?” Kata Bude Ari “Kau dan Raina memang sepasang anak manusia yang tak bisa dijauhkan walau kalian saling menghindari. Kau mungkin tidak akan pernah mengingat bagaimana semua foto-foto ini bisa ada. Karena kau amnesia” Kata Bude Ari menjelaskan. Aku bingung sumpah demi apapun aku masih bingung dengan semua ini. “Kau dan Raina adalah sepasang kekasih semenjak masih di bangku awal SMA, kalian selalu bersama kemana-mana. Kalian layaknya sudah berjodoh. Tapi Tuhan berkata lain, kau mengalami kecelakaan yang membuat ingatannya tidak akan pernah kembali. Dan parahnya Tuhan memberikan Raina cobaan dengan divonis mengidap kanker Otak yang ganas. Raina shock dan tak percaya dengan semua ini, kemudian kami pindah ke kota lain demi menghindarimu. Namun sungguh lagi-lagi Tuhan berkata lain, kami harus pindah kesini lagi karena tempat tinggal kami disana tersapu bencana alam. Itulah sebabnya dia selalu diam jika bertemu dengan mu atau dengan orang lain. Dia memendam kesedihan yang amat dalam. Dan taukah engkau nak Edwin, dia masih menggenggam erat cintanya padamu sampai akhir hayatnya” Jelas Bude Ari panjang lebar. Lengkap sudah penderitaanku Tuhan, aku baru tau kenapa Raina bersikap tertutup selama ini. Aku merasa amat bersalah. Maafkan aku Tuhan. Ampuni aku. Esoknya aku pegi menuju pusara Raina. Aku berharap Raina akan tersenyum indah disana, dia akan lebih bahagia di sisi-Nya. Aku percaya itu. “Ini buku novel untukmu nak Edwin, dia menumpahkan semuanya disini” Kuterima sebuah novel yang cukup tebal dan tak asing bagiku berjudul Love and Hurt’ by Raina, aku baru tau itu novelnya. Padahal itu adalah novel best seller selama aku di Surabaya. Sungguh terlambatnya aku Tuhan. — “Raina kesini ayo jangan jauh-jauh” Aku memanggilnya “Iya papah bentar Raina mau sepedahan bareng sama temen-temen” Katanya dengan senyum “Pah biarin Raina, dia udah besar” kata istriku Aku tersenyum melihat putriku yang semakin besar. Kuberi nama dia Raina agar aku tak akan pernah lupa dengan senyuman yang mempesona itu. Raina, terimakasih atas cintamu, pengorbananmu, perasaanmu. Terimakasih atas semuanya. Cerpen Karangan Nindi Hwang Twitter NindiHwang Cerpen Ketika Cinta Datang Terlambat merupakan cerita pendek karangan Nindi Hwang, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya. "Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!" Share ke Facebook Twitter WhatsApp " Baca Juga Cerpen Lainnya! " Mawar Merah Ternoda Oleh Alfred Pandie Kamar kosong dengan laptop menyala lagu padi -kasih tak sampai ku biarkan mengiringi kepedihan hatiku, entah apa yang ku rasakan kini, entah apa yang ku gores dengan penah di Remah Remah Kenangan Oleh Dita Ayu Maharani Barangkali aku ingin mengatakan beberapa hal kepadamu. Kita, duduk berhadapan, bersitatap satu sama lain. Mengurai kembali tali yang terputus, merampungkan kisah yang bagiku terlalu gamang. Namun aku memimpikan kebersamaan LDR Oleh Elfina Astin Jenny, seorang cewek SMA yang berambut panjang dan berhidung mancung itu kerap disapa Jen oleh teman-teman sebayanya. Jen masuk sekolah SMA dengan tujuan mencari ilmu dan mencari pengganti Jono, My Love Story Oleh Indah P. Lestari “Biar ku sudahi saja perasaan ini, secara perlahan” gumanku dalam hati seraya mengusap tetesan air mata yang sudah membasahi pipiku. Mencoba bangkit dari rasa terpuruk akibat cinta yang berdusta. Give Me a Reason Part 1 Oleh Upriani Rahman Purnama belum sempurna menggantung di hamparan lagit bersama ribuan bintang yang berkelip. Aku menengadah mengamati gelap malam yang ditaburi benda-benda lagit yang indah. Udara dingin yang menyapu kulit bercampur “Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?” "Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan loh, bagaimana dengan kamu?"
Namaku Raditya temen-temen biasa panggil Ditya, saat ini aku sudah kerja di suatu perusahaan swasta yang lumayan bonafit dan sewaktu sore sampai malam aku ambil kuliah di salah satu perguruan swasta fakultas Teknik Komputer dan jurusan Teknologi biasa setiap habis kerja aku langsung menuju tempat kuliah dan hampir pasti terlambat seperti sore ini. "Maaf Bu saya terlambat......................." kata Raditya sambil memberi hormat kepada Maya dosen Mata kuliah "DBMS" nya. "Ditya................ditya..........setiap hari pasti terlambat...............kapan tak terlambat................" kata Maya dosenya sambil geleng-geleng kepala. Raditya mulai duduk di tengah-tengah antara Heni dan Hany karena cewek dua itu melambaikan tangan menyuruhnya untuk duduk diantara mereka berdua. Raditya memang beda dengan anak pintar kebanyakan, dia lebih mau memberi contohan pada teman-teman yang lain, makanya dia banyak disukai teman-temannya sampai-sampai teman-temannya bapak-bapak dan ibu-ibu yang sudah tua yang masih juga mau untuk kuliah semua suka kepadannya. "Coba Ditya maju untuk mengerjakan soal nomor 1 ................." kata Maya dosennya, sambil memberikan spidol pada Raditya. Raditya terlihat corat-coret sebentar di bukunya, pinjam buku Heni yang ada di sebelahnya melihat-lihat catatannya lalu segera bangkit dari tempat duduknya dan segera menuju whiteboard yang ada di depan kelas langsung dia menulis sesuatu, dia amati beberapa kali sambil berpikir, lalu dia menyerahkan spidol pada Ibu Maya, dosen paling muda di mana dia kuliah dan kembali duduk diantara Heni dan Hany. "Ehm..........anak ini pandai juga.........padahal dia terlambat..........eh........ternyata dia bisa juga mengerjakannya, padahal materi yang aku berikan baru hari ini.........." batin Maya dalam hati. "Jawaban Ditya betul...............apa ada yang kurang jelas.................." tanya Maya. Semua mahasiswa secara kompak bilang belum jelas bu, dan menjadikan suasana kelas menjadi gaduh, karena semua melihat ke arah Raditya. Bagaimana tidak semua mahasiswa dalam ruangan yang sudah dari tadi mendengarkan mata kuliah Ibu Maya pada belum paham, eh...........Raditya yang datang terlambat disuruh maju malah sudah bisa. "Ok.............ok semua diam, untuk lebih jelasnya mari kita praktikkan di lab komputer saja...................." kata Maya dosen mata kuliah DBMS. Semua Mahasiswa mulai bangkit dari tempat duduknya menuju lab. komputer, tetapi Raditya masih sibuk menyalin tulisan dipapan tulis. Maya dosen DBMS masih sibuk mengisi jurnal mata kuliah sempat memperhatikan dan mulai mengajak ngobrol. "Ditya..........kamu sudah kerja ya...........kalau datang pasti terlambat terus................" tanya Maya dosenya, sambil berjalan keluar ruang di ikuti Raditya. "Ya bu.............aku keluar kerja jam ya pasti terlambat terus karena sini kan masuknya jam wib...." jawab Raditya, sambil berjalan di samping Maya dosenya itu. "Raditya.........nggak usah tanya-tanya macam-macam..........aku tahu kalau kamu pandai.........ehm.......kelihatannya kamu banyak cewek pasti................" kata Maya dosennya sambil tersenyum menggoda. "Beres Bu...............aku nggak bakal tanya macam-macam, nggak juga sih Bu.............kalau banyak teman betul tapi kalau bayak cewek nggaklah.........." jawab Raditya sambil sedikit malu-malu. Sejak saat itu Raditya sangat akrab dengan Maya dosen mata kuliah "DBMS" nya Database Manajemen System . Seperti biasa ketika mahasiswa yang lain pada praktikum di lab. komputer dan Raditya sudah selesai duluan, maka teman-temannya pada rebutan nyontoh di komputernya dan Maya dosennya selalu memanggilnya untuk di ajak ngobrol di teras luar. "Raditya.......aku tahu sekarang kenapa kamu sangat disukai semua teman-teman kamu.......sampai-sampai kalau kamu tak hadir, mereka merasa kesepian kalau tak ada kamu..........kamu pandai tapi mau berbagi sama teman-teman.........biasanya anak pandai itu individu tapi ternyata kamu tidak.......dan kamu humoris dan suka menggoda jadi banyak teman cewek suka sama kamu..........ehm......." kata Maya dosennya. "Aku kira aku biasa-biasa saja bu.............wajah ya tidak cakep-cakep amat..............." jawab Raditya sambil memperlihatkan kalau dia rendah hati. "Kamu memang biasa saja nggak jelek.........tapi kalau cewek sudah kenal siapa kamu dan sering ngobrol aku yakin cewek itu jatuh hati sama kamu.............." kata Maya dosennya, sambil senyum-senyum menggoda Raditya. "Ehm..........Ditya.....ditya.........walau aku sudah punya pacar walau belum serius........tapi kalau kamu tak masuk..............aku juga merasa kangen banget.........." bisik Maya dalam hatinya. Agung, Budi, Antok dan beberapa teman akrab Raditya yang lain yang sudah selesai mengerjakan tugas praktikum ikut nimbrung ngobrol menjadikan suasana menjadi menyenangkan. "Ditya.........Bu Maya.........masih cocok jadi temen kuliah kita dari pada jadi dosen..........Bu Maya pasti jadi mahasiswi yang tercantik disini ya............." kata Agung bercanda.................. Semua mahasiswa yang ada di teras tertawa terbahak-bahak mendengar kata-kata Agung barusan, Ibu Maya tersenyum malu sambil berjalan menuju ruang praktikum untuk melihat mahasiswa-mahsiswa yang belum selesai mengerjakan praktikumnya. "Raditya........kalau kita sama teman-teman amati,.......Maya.........kelihatan sekali suka sama kamu, tapi kami kira kamu pura-pura nggak tahu saja................" kata Budi temen kuliah yang paling ember, sambil memberi pendapat teman-temannya. Teman-teman Raditya terlihat menganggukan kepala sambil tersenyum setuju dengan pendapatnya Budi, apalagi Agung, dia terlihat mengacungkan ibu jari tangan kanan tanda ok. Malam itu karena lelah, Raditya mulai menuju kamar kost dan menutupnya tapi baru menjatuhkan badannya di atas tempat tidur HP nya bergetar ada sms. "Halo Ditya........lagi ngapain........" tulis sms itu, Raditya membaca sms itu dengan penasaran karena nomornya tidak dia kenal, lalu dia membalasnya. "Hallo.......maaf, siapa ya ini........karena belum ada nama di hp saya....." balas Raditya. "Maaf kak ini aku Sinta........anak akutansi D1..............kata Budi, kakak titip salam ya sama Budi untukku....jadi aku berani sms kakak..........ini nomor aku kak.........makasih ya kak sms aku sudah di balas........." tulis Sinta lewat sms. "Ih....Budi siapa yang titip salam untuk Sinta...........ehm nggak apa deh..........siapa tahu dia cewek baik bisa aku jadikan calon pendamping.........kalau aku lihat Sinta itu........cantik dan bodynya bagus terus kalau jalan bagus banget seperti peragawati saja........." bisik Raditya dalam hati. Belum sempat kembali membalas sms Sinta, HP nya berdering lalu dia mulai menerimanya. "Hallo siapa ya ini...............oh maaf.......maaf Bu Maya........aku kira siapa..........ehm.......masak jam segini kondangan Bu...........ok..........ok aku ke kost Bu Maya..........." jawab Raditya. Raditya cepat-cepat ganti baju dan celana rapi dan pakai sepatu semprot sana sini dan mulai menuju ke garasi mengambil Yamaha Vixion dan langsung cabut, dia memacu kendaraan dengan cepat menuju tempat kost Ibu Maya di belakang kampusnya. Sampai depan kost, Maya dosennya sudah duduk di depan teras ketika Raditya sampai depan kost, kedua mata Raditya mulai menelanjangi tubuh Maya dosennya dari atas sampai ke bawah, belum sempat Raditya berbicara, Maya dosennya sudah mulai berjalan menuju kendaraan Raditya. "Ayo........cepat sudah malam, antar aku ke pesta perkawinan teman aku...................." kata Maya sambil boceng di belakang. Raditya mulai menjalankan kendaraannya meliuk-liuk diantara mobil-mobil yang berlalu lalang di jalanan kota Semarang yang mulai padat dan sebentar kemudian sudah sampai ke gedung besar, Raditya segera memarkir kendaraan. "Ditya.......nanti kamu di dalam cuma tersenyum dan selalu menganggukkan kepala kalau aku minta.....awas kalau macam-macam..........kalau panggil aku sayang aja....ingat itu" kata Maya. Raditya cuma tersenyum sambil angkat kedua tangannya dan dia kesakitan ketika jari jemari salah satu tangan Maya dosennya itu mencubit pinggangnya. Maya mulai berjalan beriringan dengan Raditya menuju ke dalam gedung resepsi pernikahan dan tangan Maya yang kanan selalu berpegangan pada tangan Raditya. Ketika sampai dalam setelah bersalaman dengan kedua mempelai berdua, Maya mengajak Raditya untuk mencicipi masakannya. "Eh.........Maya....................aduh tambah cantik ya..........ih pacar baru ya...........ganteng gitu..........." kata Asti teman kuliahnya dulu. Maya tersenyum senang bertemu teman-teman kuliah seperti Asti, Mawar, Julia, Michel, Natasa, Ruben dan masih beberapa lagi yang lain. "Eh .......aku hampir lupa kenalkan.......ini Raditya........." kata Maya kepada teman-temannya. Raditya tersenyum dan menyalami semua teman-teman Maya dan terlihat ikut berbicara serius dengan teman-teman cowok Maya. Beberapa saat kemudian mereka mulai meninggalkan gedung tempat resepsi kawan Maya. Sampai di depan kost Maya dosennya itu, Raditya cuma duduk-duduk di atas kendaraannya. "Ayo.......masuk dulu.......ini kan malam minggu main dulu.........tapi maaf tempatnya berantakan........." kata Maya sambil berjalan menuju ke kamar kost. Raditya mulai turun dari kendaraan dan mengikuti Maya dosennya itu masuk ke dalam kamar kostnya, dia mulai tiduran di atas tempat tidur ketika melihat Maya ganti baju ke kamar mandi di dalam kamarnya, tahu-tahu Raditya seperti bermimpi saat ada jemari halus merapikan rambutnya dan tubuhnya terasa sedikit tertindih.......dan di depan wajahnya dia merasakan nafas yang mengelus wajahnya, dua mata yang sangat dia kenal mencari-cari sesuatu di dalam kedua matannya........Raditya melihat ke dalam dua mata itu dia merasakan damai........tentram nyaman........Raditya semakin merasa damai nyaman dan bahagia ketika kening dan kedua pipinya terusap hidung yang mancung, beberapa saat terlihat sunyi kamar kost itu. Raditya mulai keluar kost sambil tangan kanannya selalu melingkar ke tubuh cewek yang selalu meremas-remas jari jemari tangan kanannya serasa tak mau melepasnya. "Sayang........hati-hati ya................nggak usah ngebut met malam semoga tidur nyenyak.........." kata Maya sambil melepas gengaman tangannya di tangan Raditya. Raditya segera menjalankan kendaraan dan segera memacu biar cepat sampai ke kost, sampai di kost dia langsung menjatuhkan dirinya di kasur dan mulai dia tersenyum sendiri. Dia merasakan dan membayangkan kembali ketika Ibu Maya, dosen yang paling muda dan cantik nafasnya terasa mengelus wajahnya dan hidung mancung mulai menyentuh pipi dan keningnya dan kedua mata itu........benar-benar membuat damai tentram dan nyaman serasa membuat Raditya ingin mengulangi lagi. Sorenya ketika dia pulang kerja seperti biasa langsung menuju kampus, dia langsung menuju administrasi dulu karena hari ini dia gajian jadi bisa untuk nyicil uang sksnya dulu. Terlihat beberapa mahasiswa mengantri membuat Raditya ikut mengantri dan belum sempat duduk dia merasakan ada cewek yang memanggil ketika dia melihat tempat duduk yang dipojok, Raditya mulai tersenyum. "Eh........Sinta lagi ngapain disini...........lagi bayar kuliah ya......................." kata Raditya Sinta tersenyum sambil menganggukkan kepala dan Raditya segera duduk di sebelahnya, mereka berdua terlihat akrab mengobrol sambil tertawa-tawa pasti kalau ada mahasiswa lain melihat mereka dikira sudah berpacaran. "Sebentar ya..............Ibu mau mengisi spidol di admin dulu........................" kata Ibu Maya, sambl keluar meninggalkan ruang kuliah. Ibu Maya mulai mengisi beberapa spidolnya dengan tinta, saat kedua matanya melihat ke salah satu pojok di admin itu, jatungnya serasa copot, sampai tinta untuk mengisi spidol tercecer di lantai dan salah satu admin yang melihat berkata. "Mbak Maya...........pelan-pelan dong..........itu tuh tintanya sampai menetes di lantai..............." kata Desi admin kampus. Ibu Maya terlihat meletakkan jari telunjuknya di depan mulut sambil melihat ke arah Desi sambil menunduk, sampai-sampai Desi geleng-geleng melihat tingkah Ibu Maya. Raditya agak terkejut dan melihat ke admin ketika dia mendengar nama Ibu Maya disebut dan dia segera minta ijin Sinta untuk masuk kuliah sambil bilang ingin membayar nanti saja kalau istirahat ishoma. Ketika dia masuk ke dalam ruang kuliah terlihat dosennya nggak ada dan Raditya langsung menuju tempat duduk di dekat Heni dan Hany, tapi dia salah ternyata dua temen ceweknya itu mengusirnya. "Ih...........sana saja di depan pojok..................enak saja pacar mami Maya disini, sana saja..............kamu anggap apa kita berdua..............." kata Heni dan Hany kompak. Raditya melihat teman-teman akrabnya seperti agung dan budi menutup wajahnya dengan buku catatannya sambil tersenyum-senyum mengejeknya. Tok.............tok..............tok..........terdengar suara sepatu Ibu Maya terdengar mendekat dan segera muncul ke dalam ruang kuliah. Tanpa memandang ke arah Mahasiswa lalu dia mulai menulis dan kami semua terkejut ketika terdengar bunyi debug...............Ibu Maya jatuh pingsan. Raditya, Budi dan Agung segera membopong tubuh Maya dosennya itu ke UKS kampus dan segera beberapa admin cewek seperti Desi membantunya. Raditya terlihat gusar, mau masuk kembali ke dalam UKS dia ragu, kalau tidak masuk saat ini, dia memang cowok yang sangat dekat dengan Maya dosennya itu. Akhirnya dia masuk ke dalam UKS ketika melihat Desi mulai keluar dari dalam. Dengan langkah pelan-pelan Raditya mulai mendekat ke arah tubuh Maya dosennya itu yang masih lemas di atas tempat tidur UKS. Ketika melihat wajah Raditya ada di depannya Maya langsung memalingkan wajahnya dan ketika jari jemari tangan Raditya memegang jari jemari salah satu tangannya Maya dengan cepat menariknya dengan masih terus menangis. Dengan sabar Raditya duduk di sebelah tempat tidur dan berusaha membujuk Maya dosennya itu untuk mau diantar pulang. "Maya........apa salahku.......kok aneh sekali........kemarin malam kamu begitu bahagiannya tapi sore ini aku pegang tangan kamu saja nggak boleh...........aku tahu...........pasti kamu salah berpikir...........kamu kira aku pacaran dengan Sinta.............anak D1 akutansi ya..............kamu salah, kita nggak ada apa-apa............." kata Raditya. "Ih............sory...............siapa yang cemburu..........aku memang lagi kurang sehat saja...................." kata Maya. Raditya mulai tersenyum senang di belakang tubuh Maya karena orang yang dia cintai mulai mau berbicara. "Ayo aku antar pulang, semua Mahasiswa sudah pulang dan admin sudah tutup..............ayo sayang....." kata Raditya sambil mengelus dan mengecup pipinya dari samping. Maya mulai memalingkan wajahnya dan menatap Raditya dengan kesal dan mulai memukul dada Raditya dengan kedua tangannya sambil menangis sambil berkata. "Aku tak ingin lihat orang yang aku cintai........ngobrol berdekatan sambil tertawa-tawa di depan wajahku dan sambil berpegangan tangan.............kalau aku melihat lagi..........aku tak bakal mau lihat wajah kamu.....aku mau pindah saja ke kampus yang lain..........." kata Maya masih memukul-mukul dada Raditya sambil menangis. Beberapa saat kemudian terlihat Maya sudah ada di boncengan Yamaha Vixion Raditya menuju ke kost, mereka berdua mulai masuk ke dalam kamar kost itu. "Eh.........lha sepeda motorku gimana Ditya.............lha besok aku berangkatnya gimana coba.........." kata Maya dosennya itu dengan wajah yang sumringah. "Tadi sudah aku titipkan Pak Dol penjaga malam.............dan besok aku ijin aja berangkat awal langsung jemput kamu.........tinggal kamu malu atau nggak.........." kata Raditya sambil senyum-senyum mengejek. Mereka berdua terlihat saling mengelitik menggoda dan ketika kedua mata mereka bertemu sepi terasa di kamar kost itu, Raditya mulai membelai rambut Maya dosennya itu yang sedikit menutup sebelah wajahnya dengan sayang, membuat matanya memandang Raditya dengan cinta dan sayang begitu juga Raditya merasakan begitu bahagia hatinya saat bersama dosen cantik mata kuliah "DBMS" nya. Damai, tentram dan bahagia selalu dia rasakan ketika bersama cewek ini walau sebenarnya umurnya lebih tua 2 tahun darinya. Raditya mulai menjatuhkan ciumannya di kening Maya, lama sekali dia mencium kening cewek itu sambil dia merasakan tentram dan damai kala dia memegang rambutnya. Kedua tangan Maya terlihat memeluk erat tubuh Raditya yang ada di atasnya dan beberapa kali bibir Maya menyentuh bibir Raditya dengan sayang dan cinta dan beberapa saat mereka berdua merasa melayang-layang karena merasakan begitu damai, tentram dan bahagia. Mereka saling tersenyum bahagia ketika kedua mata mereka bertemu terasa nafas kedua insan itu membelai-belai wajah mereka berdua, terasa mereka berdua menghirup wangi cinta dan sayang yang keluar dari mulut mereka berdua. "Ih.........aku jadi malu banget sama Raditya........ternyata aku cemburuan.........dan masih seperti anak kecil walau umurku lebih tua 2 tahun.........semakin cinta dan sayang saja aku sama dia........udah ganteng ngalah lagi sama aku............" bisik Maya dalam hatinya. "Cinta itu memang aneh...........Maya lebih tua 2 tahun dari aku tapi ternyata ketika jatuh cinta dia seperti anak kecil yang minta selalu aku perhatikan lebih...........mungkin Sinta lebih muda dan cantik.........tapi kenapa ya.........aku lebih tentram, damai dan bahagia kalau dekat dengan Ibu Maya.........ehm........benar-benar cinta bisa terlihat gila di depan semua orang...........cinta memang benar-benar gila" bisik Raditya dalam hatinya sambil tersenyum-senyum sendiri mengendarai Yamaha Vixionnya di jalanan simpang lima kota Semarang.
Cerpen Karangan Resya RenataKategori Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Penyesalan Lolos moderasi pada 17 February 2022 Dulu aku pernah bertemu dengan seorang senior laki laki yang kita sebut aja namanya ncun, tanpa sengaja kami bertemu di kantin sekolah, disaat itu kami sama sekali tidak mengenal satu sama lain, setelah itu kami bertatapan seperti orang yang pernah kenal padahal tidak sama sekali, sangat lucu bukan hahaha, lalu setelah itu bel berbunyi, lalu aku dan teman temanku kembali ke kelas untuk melanjutkan pelajaran. Pada saat itu jam pulang kami berbeda, para seniorku pulang jam WIB dan kami juniornya pulang jam WIB, saat mereka pulang sekolah kami juga istirahat lagi, lalu setelah itu aku bertemu kembali dengannya di dekat bus sekolah kami dan dia bersama teman perempuannya, disitu aku merasa cemburu, oh no dia bukan siapa siapa, lalu aku pergi untuk membeli makanan. Oke setelah lama belajar kami pun pulang sekolah, lalu pas malam hari selesai makan malam ada yang dm aku ternyata seniorku, disitu aku belum tau kalau senior yang dm aku adalah temannya si ncun tadi, lalu dia menanyakan padaku “kamu punya pacar ngga, temenku suka sama kamu” oh tidak!! temannya yang mana?, disitu aku sangat deg degan karna aku sudah tertarik pada ncun seniorku, lalu dia menyebut nama temannya yang menyukaiku ternyata dia adalah ncun. Di malam itu aku sangat bahagia, tidak lama dari itu ncun pun ngedm aku lalu kami pun berchattingan ya layaknya senior dan adik kelas saja dan aku melihat jam yang sudah menunjukkan pukul WIB lalu aku izin tidur kepadanya. Besoknya aku kembali sekolah dan tidak bertemu sekali pun dengannya, di pikiranku “apa dia tidak masuk sekolah?” aku bertanya tanya sendiri dan ga lama setelah apel pagi kami pun masuk ke kelas lalu aku belajar seperti biasanya. Tiba tiba dia datang ke kelasku oh my god ngapain dia ke kelasku, ternyata dia mengikuti program drama untuk festival dan yang mengajar drama itu wali kelasku dan pada saat itu wali kelasku sedang mengajar di kelasku, setelah itu semua temanku teriak “ciee ciee” aku sangat tidak mengerti apa yang mereka maksud, ternyata temennya si ncun telah membocorkan bahwa kami sedang pdkt, ga lama setelah itu mereka pun latihan drama dan pas jam istirahat kami pun ikut menonton mereka latihan. Lalu datang senior perempuan yang temen sekelasnya si ncun dia menanyakan siapa pdkt ku, tanpa kusadari aku pun keceplosan mengungkapkan bahwa pdkt ku adalah ncun, disitu mereka semua tertawa gembira, hahaha maklum lah senior munafik. Ga lama setelah pulang sekolah ncun menembakku dan kami pun jadian dan pada malam itu juga aku posting lagu menandai si ncun, ternyata temennya senior perempuanku tadi suka dengan ncun tapi ini semua bukan salahku, aku tidak pernah tau bahwa dia suka pada ncun, setelah mengetahui hubungan kami semua senior pun memusuhiku, setiap hari aku dilabrak dengan alasan “ga boleh pacaran satu sekolah”. Ga lama dari itu hari festival pun tiba, mereka semua bersiap siap untuk pergi ke lokasi, lalu wali kelasku mempercayakanku untuk memegang semua hp anak drama supaya tidak hilang dan aku pun ikut pergi ke lokasi drama, setelah semuanya berlangsung lalu mereka istirahat, di lokasi istirahat aku melihat sesuatu, apa kalian tau apa yang kulihat? ya aku melihat senior yang suka dengan ncun mereka sedang berduaan foto di pojok ruangan, disitu aku langsung terdiam dan meminta pulang. Akhirnya temanku mengajakku pulang lalu aku menceritakan semuanya, setelah mendengar ceritaku temanku pun marah kenapa ncun tidak memikirkan perasaanku, ga lama dari itu hp ku pun berbunyi ternyata dapat notif dari ncun yang memohon maaf, sebenarnya aku ga mau maafin dia karena ya itu memang sakit sekali tapi teman temannya pun semua meminta maaf padaku ya akupun menerima maaf itu walau tidak ikhlas wkwk, lalu si senior perempuan tadi memposting foto mereka dengan caption “hanya teman” hahaha sakit sekali hatiku. Ga lama dari itu covid-19 pun menyerang indonesia, sekolah kami diliburkan dan belajar daring, walaupun daring kita juga tetap sering jumpa setiap minggu jalan jalan dan ga berapa lama dia pun tamat dari sekolah itu, tinggal lah aku sendiri di sekolah itu wkwk, lalu dia pun melanjutkan sekolahnya di luar daerah dan kami pun ldr. Aku mengira kalau kami ldr hubungan kami tidak berjalan lama ternyata aku salah, kami anniversary ke 1 tahun dan aku sangat tidak menyangka bahwa kami telah menjalani hubungan yang sudah lama, setelah itu dia kembali lagi sebentar untuk mengambil ijazah smpnya dan kami pun bertemu walau waktu yang sangat sebentar tapi tidak apa apa aku mensyukuri telah bertemu dengannya, setelah itu dia kembali lagi ke sekolahnya. Ga lama setelah itu aku jenuh menjalani hubungan, aku menginginkan untuk putus tapi dia tidak mau, setiap hari aku meminta putus dan ga pernah bagus membalas chatnya, mungkin dihari itu dia sudah capek menghadapi sifatku yang egois ini, lalu dia pun menerima keputusanku itu yang mengakhiri hubungan kami, pertama putus aku merasa biasa saja lalu lama kelamaan aku merasa kehilangan, ya ini semua memang salahku. Tepat anniversary ke 2 tahun tapi posisi kita udah putus ya disaat itu dia memposting foto cewek barunya dan aku melihatnya rasanya aku ingin teriak sekeras-kerasnya aku sangat sedih dihari itu sangat hancur aku ga nafsu makan dan ga lama dari itu aku pun jatuh sakit, lalu setelah mengetahui aku sakit dia dm aku dia bilang “walaupun aku udah punya pacar tapi kamu masih bisa curhat semua masalah apapun ke aku tapi lihat waktunya tidak setiap saat aku bisa membalas chatmu” disitu aku sangat sedih karna hanya dia yang bisa mengerti perasaanku dan lama kelamaan aku semakin melihat dia bahagia. Iya aku tau ini salahku aku egois aku yang ninggalin dia dan dia ga boleh bersama orang lain, itu hal yang lucu, akhirnya walaupun aku ga ikhlas dia bergandengan dengan yang lain tapi aku mencoba untuk belajar ikhlas dan dia pun berhak bahagia, dan pesanku untuk ncun, ncun ga boleh sedih sedih lagi, bahagia sama pacar barunya, kalau pacar baru ncun nyakitin ncun balik lagi ke aku, aku tetap di belakang ncun dan tetap menunggu ncun ya walau itu hal yang mustahil untuk terjadi, dan pesan untuk pacar barunya ncun jangan sakiti dia ya dia berhak bahagia ya kakak cantik, semoga kalian langgeng aku akan terus mendoakan kalian agar tetap bahagia See you ncunnn!!!! Cerpen Karangan Resya Renata Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 17 Februari 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpen Cinta Dengan Senior merupakan cerita pendek karangan Resya Renata, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya. "Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!" Share ke Facebook Twitter WhatsApp " Baca Juga Cerpen Lainnya! " Berondong Tua Oleh Siska Sakura Berondong, berondong tua Sukanya mencari mangsa Keluar masuk lubang buaya Mencari wanita-wanita muda Mungkin lagu itu lah yang cocok untuk mengambarkan keadaanku saat ini. Oh iya nama aku cinta, Unforgettable Oleh Rara Hegira Hazara Terus kupandang wajahnya. Cantik, putih, bersinar… Takkan gue lupakan senyum indah yang menghiasi wajahnya itu. Dan sampai saat ini tak bisa gue lupakan kejadian yang sampai merenggut nyawanya. Namanya Penyesalan Oleh Turah Latifah Saat itu matahari sudah mulai memuncak, aku masih setia berada di dalam ruang kecil tempat tidurku, menatap sayu langit biru yang berbatas kaca cendela. Aku masih enggan melangkahkan kakiku Sampai Kapan Oleh Ara Silvia Putri Hari itu Idul Adha, aku tidak pulang kampung dan tetap di kos. Saat dia datang semalem ke kostku, dia mengajakku untuk main ke kontrakannya. Nama dia Adhy, seorang kakak Andaikan Oleh Muhammad Adha Wahyudi Andaikan waktu itu dia tak pernah mengenal pria itu, andaikan waktu itu dia tak pernah mengikuti ajakan dari pria itu mungkin saja sekarang dia tak akan pernah semenyesal ini, “Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?” "Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan loh, bagaimana dengan kamu?"
cerpen jatuh cinta sama senior gila